Membuat Surety Bond yang Cepat, Aman dan Tidak Bikin Pusing

Bulan-bulan ini menjadi bulan sibuk bagi sejumlah instansi baik itu Pemda, Kementrian, BUMN or BUMD dll yang menggunakan dana APBN or APBD atau dana negara lainnya. Mengapa?

Penyerapan anggaran proyek saat ini jadi isu yang hangat di saat terpaan badai keGalau-an ekonomi, pertumbuhan minus atau perlambatan ekonomi jadi cerita yang menghiasi. Kok saat terjadi perlambatan atas pertumbuhan ekonomi malah penyerapan anggaran jadi jalan ditempat atau seperti jalan bekicot….LAMBAT….

Semester 1 telah berlalu, tapi serapan anggaran malah jadi modal ancaman negara kepada instansi yang tidak segera realisasi kan anggaran yang telah disusun sebelumnya. Pengalihan menjadi Surat Utang Negara (SUN) menjadi ancaman bagi anggaran yang tidak tergarap. Kocar kacir deh bagaimana realisasi kan anggaran kerja yang akan menjadi penopang ekonomi secara luas sesuai tujuan masing-masing program.

Namun kita tidak akan membahas isu penyerapan anggaran secara detail karna masih banyak pakar yang pintar mengulas nya. Namun ketika kemarin saat acara reuni kampus ketemu adik kelas yang saat ini jadi pengusaha, ia sedikit mengulas dan lebih tepat berkeluh kesah atas cara pemerintah dalam perlakuan di sistem tender. Seakan para Pengusaha atau kontraktor tidak boleh untung dalam pengadaan, margin yang tipis dan kadang tidak masuk hitung2an bisnis menjadi menyebab minim nya anggaran, ungkap nya. Ketakutan para pejabat dalam mengambil keputusan atau takut keputusan berakibat pelanggaran di belakang hari juga jadi salah satu sebab minim nya serapan anggaran di cerita lain.

Sementara kita stop deh bahas gimana serapan anggaran heheheh

Bagi Dunia asuransi, minimnya realisasi proyek juga menjadi penyebab menurun nya potensial premi yang di dapat dari bisnis ikutan nya. Pada suatu proyek baik Proyek APBN/APBD hingga Proyek Swasta, baik pengadaan atau pembangunan fisik biasa nya ada beberapa turunan produk asuransi yang wajib di buat oleh para Kontraktor rekanan, seperti :

1. Asuransi Penjaminan atau Surety Bond yang terdiri dari Jaminan Penawaran, Jaminan Pelaksanaa, Jaminan Uang Muka dan Jaminan Pemeliharaan

2. Asuransi Contractor All Risk (CAR) yang menjamin selama masa pembangunan fisik, baik jalan hingga gedung

3. Asuransi Kecelakaan Diri Pekerja selama Proyek berlangsung

4. Asuransi Pengiriman Barang terkait material (dari Gudang/pelabuhan/import ke lokasi proyek dan sebaliknya)

5. Asuransi Liability seperti CGL atau Comprehensive General Liability

6. Asuransi lainnya seperti Workmens Compensation Insurance, Automobile, Asuransi Alat Berat, dll

Kita akan mulai dari poin 1 untuk Asuransi Penjaminan atau Surety Bond, terdapat Perpres No. 4 /2015 yang secara tidak langsung mengurangi porsi Asuransi dalam mengais premi/service charge atas penjaminan karena beberapa pasal yang mengatur untuk tidak perlu nya penjaminan atas pelaksanaan tender. Perubahan dalam regulasi ini menjadikan peran asuransi sedikit ter-marginal kan, bahasa politikus nya heheheh…..nah terkait penerapan nya tentu banyak perbedaan dan persepsi, tapi kita tidak akan membahas hal tersebut juga.

Inti dari peran asuransi dalam proyek adalah ikut sukses kan proyek tersebut dari pihak yang berkepentingan, bagi Obligee atau pemilik Proyek maka Sertifikat Jaminan yang dikeluarkan adalah pegangan atas komitmen Principal/Kontraktor dalam pelaksanaan proyek yang di dapatkan. Bagi Principal, peran asuransu membantu dalam melengkapi segala ketentuan yang memang mengharus kan ada nya jaminanĀ  asuransi atas proyek yang di dapat. Bagi Kontraktor yang tidak memiliki staf khusus dalam pengurusan dokumen asuransi, maka akan ter stigma bahwa mengurus jaminan asuransi sulit. Dokumen yang diminta ini dan itu…Harus ini dan itu….hehehehe

Tapi jangan salahkan dulu keadaan, Anda sebagai Kontraktor tidak harus juga punya staf khusus yang handle penjaminan tapi hanya perlu minta orang kepercayaan Anda baik Staf atau Anda sendiri untuk luangkan waktu untuk memahami alur pembuatan di awal nya. Penjaminan ini bukan seperti produk asuransi kendaraan yang tinggal Foto kendaraan sebagai pelengkap Surat Permohonan dan Copy STNK untuk dapat polis Asuransi. Penjaminan sama seperti Kredit di Bank, nahlo…..Bank tentu akan minta detail biodata Anda/perusahaan Anda, ya iyalah…lah wong Bank akan memberikan uang ke Anda kok sesuai kebutuhan….Surety Bond atau Penjaminan atau Bank Garansi hampir sama dengan pemberian kredit tersebut. Jadi wajar jika dimintakan dokumen tentang Company Profile, laporan Keuangan, Daftar Pengalaman perusahaan Anda pada proyek sebelumnya dan Dokumen terkait proyek yang sedang diajukan oleh Pihak Asuransi/agen. Malah Anda wajib bertanya-tanya jika ada Asuransi yang begitu gampang mengeluarkan Sertifikat Jaminan kepada Anda tanpa Data pengajuan yang memadai, bisa-bisa Anda dapat sertifikat bodong, aspal, palsu dan kawan-kawan nya atau diterbitkan oleh perusahaan yang tidak bonafide.

Saya setuju untuk dan atas pelayanan, kemudahan sangat diperlukan oleh para Kontraktor tapi Jika Anda atau perusahaan Bapak/Ibu sudah memiliki record di perusahaan Asuransi tempat Bapak/Ibu buat maka untuk penerbitan Sertifikat Jaminan berikut nya pasti akan sangat mudah dan dibuat mudah. Jadi dokumen terkait jati diri perusahaan Anda di atas seperti company profile, lapkeu, daftar pengalaman dll hanya dimintakan pada saat PERTAMA kali pengajuan kecuali ada perubahan/ganti tahun. Untuk lebih jelas nya bisa dalam bentuk pertanyaan dan diskusi nanti nya…

Lalu, untuk rate atau biaya tentu jadi akhir yang dinanti kan, kenapa agar tidak mengganggu cashflow anda tentu nya, sebagai contoh untuk pembuatan Jaminan Penawaran atas sebuah tender, maka ilustrasi nya sbb:

Nilai Proyek : 10 Milyar, maka biasa nya Jaminan Penawaran adalah 1-3% dari Nilai Proyek, coba kita ambil tengah2 ya…

Nilai Jaminan : 200 Juta, dengan periode jaminan misalkan 60 hari, maka biaya nya menjadi:

Biaya Jasa : 200 Juta x 0.15% + adm = 332 ribu

Untuk perhitungan jenis Jaminan lainnya(Pelaksanaan, Uang Muka, Pemeliharaan) kurang lebih hampir sama, detail nya bisa di diskusi kan atau di tanyakan kepada penulis.

Simple yaah, jadi jika Bapak/Ibu memiliki perusahaan yang jelas dan tidak perlu ada yang ditutupi maka cukup pahami saja alur cara membuatnya, berikan dokumen yang memang menjadi syarat, maka Bapak /Ibu memiliki HAK untuk mendapatkan kemudahan guna kelancaran proyek yang Bapak/Ibu kerjakan. Dokumen yang Bapak/Ibu berikan, khusus nya dokumen proyek bagi Agen/Marketing yang berpengalaman tentu akan menjadi Konsultan bagi Bapak ibu, kok gitu..??? Iya, karena terkadang karena Bapak/Ibu tidak terlalu paham tentang teknis pembuatan jaminan berakibat kesalahan dalam ketentuan yang TIDAK BOLEH SALAH, seperti :

1. Penulisan Nama Pekerjaan

2. Penerima Jaminan/Obligee berikut nama dan alamat nya jika diminta

3. Periode Jaminan, biasa nya berubah saat Aanwizjing

4. Nilai Jaminan, biasa nya berubah/koreksi saat Aanwizjing

5. Tanggal terbit jika diminta, dll

Hal-hal tersebut kadang kita anggap sepele karena sebagai Kontraktor, Anda sudah di PUSING kan dengan core dari proyek itu sendiri, maka kerjasama lah dengan agen/marketing yang bisa membantu Anda hindari kesalahan yang tidak perlu

Semoga membantu…..Untuk hal yang kurang jelas bisa hubungi penulis…

Bisa contact sy via Line/WA : 0812 83 284 883

Khusus Call di 0877 82734 164 atau 0812 8313 790

Email : hendrabumida@yahoo.co.id atau hendra@bumida.co.id

Fax. 021 88966355Proyek 1 Proyek 2 proyek-jalan